Onbet789 – . . . Keraton Versailles, begitu lah kira-kira kalau di-Bahasa Indonesia-kan

Awalnya sih, saya gak ada rencana pergi ke tempat ini. Lebih tepatnya saya gak punya rencana apa pun di Paris, kecuali foto selfie di depan Menara Eiffel #turisbingitz. Tapi karena teman sekamar saya yang sejak hari pertama ngoceh terus masalah Château de Versailles yang seolah tempat ini wah banget, jadi terhasut lah saya. Ini entah dia-nya yang bakat jadi sales beras kencur atau saya-nya yang gak kuat iman, pokoknya besok paginya saya langsung cap-cus ke Versailles.

Versailles itu sejatinya bukan lagi berada di Kota Paris, melainkan sudah di daerah suburb, alias Paris-coret or kabupaten-nya. Makanya, buat ke sini sudah gak bisa lagi pakai kereta metro. Tapi harus pakai kereta RER line C (atau nyarter mobil sendiri kalau budget kalian melimpah ruah seperti orang-orangan sawah). Dan tiketnya juga beda loh dengan tiket metro. Jadi kalau kalian sudah beli karcis t+ grosiran seharga 10pcs/14.90euro dengan tujuan ngirit, ya maaf-maaf saja. Tiket’e ‘ra payu. Kudu beli tiket lagi tiket yang khusus RER.

Tidak seperti tiket metro yang jauh-dekat sama harga, tiket RER masih mempertimbangkan jarak untuk menentukan kalian harus bayar berapa. Dari Paris kota ke Versailles, kalian akan dikenakan 3.65 euro sekali jalan. Beli PP tetep 7.30 euro. Jangan harap ada diskon. Di eropa apa-apa mahal.

Tiket RER bisa kalian beli lewat mesin atau langsung ke konter customer service. Kalau kalian sudah familiar dengan  mesin tiket di Paris, ya monggo pakai mesin tiket. Ada bahasa inggrisnya, jadi jangan takut. Tapi kalau kurang pede kayak saya dan menghindari risiko salah beli, lebih baik beli lewat konter. Itung-itung silaturahmi sama yang jualan. Siapa tahu ganteng.

Latih lah dulu pronounciation kalian sebelum berkomunikasi dengan penjaga konter. Sebagus apa pun bahasa inggris kalian, pelafalan Château de Versailles ala Prancis tidak akan sama dengan yang diajarkan di kelas-kelas TOEFL. Percaya lah, it’s differentDon’t be ignorant like me kalau gak mau terlihat katrok. Yang jaga konter gak bakalan mudheng mendengar pelafalan yang tidak semestinya. Apalagi pakai logat jawa-timuran. Wis pokoke dijamin  ngisin-ngisini.

Tujuan akhir kereta RER line C biasanya di stasiun Versailles. Lebih tepatnya di stasiun yang bernama Gare de Versailles-Château-Rive-Gauche. Melihat nama stasiunnya yang susah dilafalkan seperti nama artis telenovela, tangan saya langsung kemringet. Tapi gak pa-pa. Selama gak ada yang ngajak ngomong, saya akan baik-baik saja. Lha turunnya piye? Gimana? Gampang. Nek ono wong ayu ngawa peta kalo kamera, ikuti saja dia. Kalau dia turun, ikut turun. Dijamin tekan sampai tujuan. #karena_dresscode_turis_dimana-mana_sama

Sekitar jam 1 siang, saya sampai di parkiran bis Château de Versailles. Suasanya panas, tapi Cikarang jauh lebih panas. Meski demikian, turis-turis dari berbagai penjuru dunia tetap bersemangat ngantri di depan pintu istana. Dan siapa sangka jarak antara mintu masuk dengan ujung antrian bisa mencapai lebih dari satu kilometer. Saya tentu saja tidak menyangka – karena saya kira cuma EXOdan Super Junior saja yang populer.

20180616_171658

Delapan puluh menit sudah saya mengantri. Dan tinggal sejengkal lagi kaki saya menginjak pintu gerbang ketika tiba-tiba seorang mbak-mbak security-check berambut pirang menuturkan sebuah kalimat yang kalau dibahasa inggris-kan akan terdengar seperti ini:
“This is the line for visitor who already has the ticket”

Gubraakk !!!!
Bak kesetrum remot tv, badan saya langsung adhem-panas-greges-greges. Syok! Apa artinya satu jam-an ini gue berpanas-panas ngantri? Buat apa saya harus menahan kedengkian terhadap sepasang kekasih yang peluk-pelukan, elus-elusan, dan sun-sunan di depan saya selama ngantri, di saat saya hanya bisa berpelukan sama tongsis 10ribuan? Why? Why? WHY??? Hhhh . . . Semua itu akan sia-sia belaka jikalau kalian lupa beli tiket.

Sempet down rasanya dan ingin memeluk mas-mas penjaga istana yang ganteng. Rasanya pengen pulang saja sekalian. Ogah banget deh harus ngantri lagi dari awal. Antrian sekilo yang tadi saja gak ada habis-habisnya. Mau di sini sampai jam berapa? Tapi kalau dipikir-pikir, sudah keburu ke sini sih. Wis kadung ning Paris. Belum tentu saya bisa balik lagi. Ya sudah lah. Yuk beli tiket aja. Kita ngantri lagi. Meski di konter tiket, juga harus ngantri panjang lagi. Jancuk!

Tiket masuk Château de Versailles tidak bisa dibilang murah. 18 euro untuk tiket istananya saja. Hitung sendiri berapa kalau di-rupiah-kan. Bisa lah buat mborong mie ayam dan es doger. Tapi kabar gembiranya, buat para WNI atau WN-manapun yang berusia di bawah 26 tahun dan punya KTP uni-eropa, kalian masih bisa masuk gratis. Namun berhubung KTP saya made-in Kabupaten Rembang dan tanggal lahir gak bisa dipalsukan, informasi ini hanya sia-sia belaka.

Makanya biar agak murah, saya beli yang tiket passport seharga 20 euro. Selisih 2 euro tapi bisa sekalian lihat Garden of Versailles dan Estate of Trianon. Soalnya kalau masuk ke garden dan area trianon-nya dengan harga ketengan, kalian harus nambah 8.5 dan 12 euro lagi. Lumayan cuk! Ngirit 18 euro. Isa tak ‘nggo tuku sega pecel Eropa ‘rong piring.

Château de Versailles
Setelah melewati cek body dan cek barang bawaan, tiba lah saya di pintu istana yang sebenarnya. Sebelum masuk, kalian bisa meminjam audio-guide yang disediakan oleh panitianya. Audio-guide nya gratis dan tersedia dalam beberapa bahasa. Tetapi bahasa jawa dan bahasa sangsekerta tidak termasuk di dalamnya. Saya sendiri gak berminat meminjam audio-guide. Karena selain tangan saya sudah ribet dengan tongsing dan gembolan aqua, meminjan alat ini harus pakai ngantri-ngantri lagi. Jadi, tidak lah, terimakasih, saya masih trauma.

20180616_190640

Tapi pas saya ke sini, Château de Versailles memang lagi banyak pengunjung. Ramenya udah kayak PRJ. Mau foto pun jadinya ribet.

Memasuki bangunan istana, saya disuguhi pemandangan interior yang wah. Tapi kerena dulu gak sekolah di bagian arsitek, saya gak tahu gimana ngejelasinnya. Pokoknya mewah megah seperti yang ada di film-film kerajaan. Kerajaannya tentu saja Kejaraan Prancis, bukan Majapahit.

20180616_191252
20180616_194530

Kalau kalian pernah nonton film berjudul Marie Antoinette yang dibintangi oleh Kirsten Dunst sebagai lakonnya, isi Château de Versailles itu ya kurang lebih seperti latar film ini. Lantai marmer, ukiran-ukiran, berbagai lukisan petinggi kerajaan, patung-patung panglima perang, perabot ala Victoria, sampai gorden-gorden mahal turut menyemarakkan isi istana Versailles.

20180616_191424
20180616_191047

Kalau dilihat dari luar, Château de Versailles bisa dibilang cukup besar. Tapi cuma ruangan-ruangan tertentu saja boleh diakses turis. Itu pun beberapa ada yang dipager. Jadinya hanya bisa lihat lewat pintu-jendela, salah beberapanya adalah Royal Chapel alias “gereja” istana, dan kamar si raja, dan kamar si ratu. Ketiga ruangan ini gak boleh kalian masuki. Hanya boleh ditengok dan difoto dari luar. Tapi untuk kamar beberapa princess, boleh diakses oleh kita-kita yang bukan panitia.

20180616_192637
20180616_191852

Diantara ruangan-ruangan yang ada, favorit saya adalah The Hall of Mirror – sebuah aula memanjang dengan lampu-lampu chandelier menghiasi langit-langitnya.

. . . Keraton Versailles, begitu lah kira-kira kalau di-Bahasa Indonesia-kan

Awalnya sih, saya gak ada rencana pergi ke tempat ini. Lebih tepatnya saya gak punya rencana apa pun di Paris, kecuali foto selfie di depan Menara Eiffel #turisbingitz. Tapi karena teman sekamar saya yang sejak hari pertama ngoceh terus masalah Château de Versailles yang seolah tempat ini wah banget, jadi terhasut lah saya. Ini entah dia-nya yang bakat jadi sales beras kencur atau saya-nya yang gak kuat iman, pokoknya besok paginya saya langsung cap-cus ke Versailles.

Versailles itu sejatinya bukan lagi berada di Kota Paris, melainkan sudah di daerah suburb, alias Paris-coret or kabupaten-nya. Makanya, buat ke sini sudah gak bisa lagi pakai kereta metro. Tapi harus pakai kereta RER line C (atau nyarter mobil sendiri kalau budget kalian melimpah ruah seperti orang-orangan sawah). Dan tiketnya juga beda loh dengan tiket metro. Jadi kalau kalian sudah beli karcis t+ grosiran seharga 10pcs/14.90euro dengan tujuan ngirit, ya maaf-maaf saja. Tiket’e ‘ra payu. Kudu beli tiket lagi tiket yang khusus RER.

Tidak seperti tiket metro yang jauh-dekat sama harga, tiket RER masih mempertimbangkan jarak untuk menentukan kalian harus bayar berapa. Dari Paris kota ke Versailles, kalian akan dikenakan 3.65 euro sekali jalan. Beli PP tetep 7.30 euro. Jangan harap ada diskon. Di eropa apa-apa mahal.

Tiket RER bisa kalian beli lewat mesin atau langsung ke konter customer service. Kalau kalian sudah familiar dengan  mesin tiket di Paris, ya monggo pakai mesin tiket. Ada bahasa inggrisnya, jadi jangan takut. Tapi kalau kurang pede kayak saya dan menghindari risiko salah beli, lebih baik beli lewat konter. Itung-itung silaturahmi sama yang jualan. Siapa tahu ganteng.

Latih lah dulu pronounciation kalian sebelum berkomunikasi dengan penjaga konter. Sebagus apa pun bahasa inggris kalian, pelafalan Château de Versailles ala Prancis tidak akan sama dengan yang diajarkan di kelas-kelas TOEFL. Percaya lah, it’s differentDon’t be ignorant like me kalau gak mau terlihat katrok. Yang jaga konter gak bakalan mudheng mendengar pelafalan yang tidak semestinya. Apalagi pakai logat jawa-timuran. Wis pokoke dijamin  ngisin-ngisini.

Tujuan akhir kereta RER line C biasanya di stasiun Versailles. Lebih tepatnya di stasiun yang bernama Gare de Versailles-Château-Rive-Gauche. Melihat nama stasiunnya yang susah dilafalkan seperti nama artis telenovela, tangan saya langsung kemringet. Tapi gak pa-pa. Selama gak ada yang ngajak ngomong, saya akan baik-baik saja. Lha turunnya piye? Gimana? Gampang. Nek ono wong ayu ngawa peta kalo kamera, ikuti saja dia. Kalau dia turun, ikut turun. Dijamin tekan sampai tujuan. #karena_dresscode_turis_dimana-mana_sama

Delapan puluh menit sudah saya mengantri. Dan tinggal sejengkal lagi kaki saya menginjak pintu gerbang ketika tiba-tiba seorang mbak-mbak security-check berambut pirang menuturkan sebuah kalimat yang kalau dibahasa inggris-kan akan terdengar seperti ini:
“This is the line for visitor who already has the ticket”

Gubraakk !!!!
Bak kesetrum remot tv, badan saya langsung adhem-panas-greges-greges. Syok! Apa artinya satu jam-an ini gue berpanas-panas ngantri? Buat apa saya harus menahan kedengkian terhadap sepasang kekasih yang peluk-pelukan, elus-elusan, dan sun-sunan di depan saya selama ngantri, di saat saya hanya bisa berpelukan sama tongsis 10ribuan? Why? Why? WHY??? Hhhh . . . Semua itu akan sia-sia belaka jikalau kalian lupa beli tiket.

Sempet down rasanya dan ingin memeluk mas-mas penjaga istana yang ganteng. Rasanya pengen pulang saja sekalian. Ogah banget deh harus ngantri lagi dari awal. Antrian sekilo yang tadi saja gak ada habis-habisnya. Mau di sini sampai jam berapa? Tapi kalau dipikir-pikir, sudah keburu ke sini sih. Wis kadung ning Paris. Belum tentu saya bisa balik lagi. Ya sudah lah. Yuk beli tiket aja. Kita ngantri lagi. Meski di konter tiket, juga harus ngantri panjang lagi. Jancuk!

Tiket masuk Château de Versailles tidak bisa dibilang murah. 18 euro untuk tiket istananya saja. Hitung sendiri berapa kalau di-rupiah-kan. Bisa lah buat mborong mie ayam dan es doger. Tapi kabar gembiranya, buat para WNI atau WN-manapun yang berusia di bawah 26 tahun dan punya KTP uni-eropa, kalian masih bisa masuk gratis. Namun berhubung KTP saya made-in Kabupaten Rembang dan tanggal lahir gak bisa dipalsukan, informasi ini hanya sia-sia belaka.

Makanya biar agak murah, saya beli yang tiket passport seharga 20 euro. Selisih 2 euro tapi bisa sekalian lihat Garden of Versailles dan Estate of Trianon. Soalnya kalau masuk ke garden dan area trianon-nya dengan harga ketengan, kalian harus nambah 8.5 dan 12 euro lagi. Lumayan cuk! Ngirit 18 euro. Isa tak ‘nggo tuku sega pecel Eropa ‘rong piring.

Château de Versailles
Setelah melewati cek body dan cek barang bawaan, tiba lah saya di pintu istana yang sebenarnya. Sebelum masuk, kalian bisa meminjam audio-guide yang disediakan oleh panitianya. Audio-guide nya gratis dan tersedia dalam beberapa bahasa. Tetapi bahasa jawa dan bahasa sangsekerta tidak termasuk di dalamnya. Saya sendiri gak berminat meminjam audio-guide. Karena selain tangan saya sudah ribet dengan tongsing dan gembolan aqua, meminjan alat ini harus pakai ngantri-ngantri lagi. Jadi, tidak lah, terimakasih, saya masih trauma.

20180616_190640

Tapi pas saya ke sini, Château de Versailles memang lagi banyak pengunjung. Ramenya udah kayak PRJ. Mau foto pun jadinya ribet.

Memasuki bangunan istana, saya disuguhi pemandangan interior yang wah. Tapi kerena dulu gak sekolah di bagian arsitek, saya gak tahu gimana ngejelasinnya. Pokoknya mewah megah seperti yang ada di film-film kerajaan. Kerajaannya tentu saja Kejaraan Prancis, bukan Majapahit.

20180616_191252
20180616_194530

Kalau kalian pernah nonton film berjudul Marie Antoinette yang dibintangi oleh Kirsten Dunst sebagai lakonnya, isi Château de Versailles itu ya kurang lebih seperti latar film ini. Lantai marmer, ukiran-ukiran, berbagai lukisan petinggi kerajaan, patung-patung panglima perang, perabot ala Victoria, sampai gorden-gorden mahal turut menyemarakkan isi istana Versailles.

20180616_191424
20180616_191047

Kalau dilihat dari luar, Château de Versailles bisa dibilang cukup besar. Tapi cuma ruangan-ruangan tertentu saja boleh diakses turis. Itu pun beberapa ada yang dipager. Jadinya hanya bisa lihat lewat pintu-jendela, salah beberapanya adalah Royal Chapel alias “gereja” istana, dan kamar si raja, dan kamar si ratu. Ketiga ruangan ini gak boleh kalian masuki. Hanya boleh ditengok dan difoto dari luar. Tapi untuk kamar beberapa princess, boleh diakses oleh kita-kita yang bukan panitia.

20180616_192637
20180616_191852

Diantara ruangan-ruangan yang ada, favorit saya adalah The Hall of Mirror – sebuah aula memanjang dengan lampu-lampu chandelier menghiasi langit-langitnya.

20180616_193403
20180828_095015
😀

Sebelum keluar dari istananya, jangan lupa mencoba parfum tester di toko suvenirnya. Coba lah segala bentuk tester yang ada. Mumpung gratis 

Garden of Versailles
Tepat di belakang (atau entah yang bagian depan) istana, ada taman besar yang harga tiket-nya sudah termasuk paket jika kalian beli karcis yang passport. Dari istana, taman ini tampak luas. Dan setelah ditelusuri dengan jalan kaki sambil beberapa kali istirahat selonjoran, ternyata taman ini lebih luas dari yang saya kira. Kalau kemarin saya meremehkan teman sekamar saya yang pegel-pegel sepulangnya dari Château de Versailles, kini saya mendapat karmanya. Sikil-ku saiki kemeng puoolll.

20180616_202213

Saking luasnya, belum semua bagian taman saya singgahi. Tapi kayaknya mirip-mirip dengan spot yang sudah saya lihat. Banyak pagar tanaman yang tinggi-tinggi. Jadi tamannya juga terkesan seperti maze. Tapi tenang seja. Meski mirip labirin, inshaallah tidak ada tempat yang angker. Paling cuma bikin nyasar. Tapi kalau nyasar, tinggal lambaikan tangan ke kamera.

20180616_211918
20180616_212503
20180828_094839

Seperti layaknya garden-garen pada umumnya, Garden of Versailles juga memiliki kebon kembang, kolam-kolam, air mancur, dan bahkan kolam besar untuk mendayung. Air mancur-nya juga ada yang model dancing-dancing seperti di Situ Buleud Purwakarta.

20180616_204357
20180616_213208
20180616_203120

Tapi tarian air mancur di siang hari gak seberapa dibanding dengan pertunjukkan air mancur Château de Versailles yang sebenarnya, The Musical Fountain Show. Kalian bisa menyaksikan pertunjukkan ini di tanggal-tanggal tertentu. Biasanya pas malem minggu sekitar bulan Maret sampai Oktober. Harga tiketnya, saya kurang tahu berapa euro. Silakan di-googling sendiri.

Estate of Trianon
Satu kilometer ke utara dari taman istana, ada kompleks istana kecil bernama Estate of Trianon. Masih bagian dari Château de Versailles sih. Tapi agak terpisah dan harus mbayar lagi kalau kalian gak punya tiket passport.

Estate of Trianon ini bisa dibilang Château de Versailles versi mini. Tapi meski mini, areanya juga lumayan gedhe. Lumayan membuat kaki makin gempor. Betis yang sudah segedhe paha hewan kurban, jangan harap bisa langsing seperti paha Gigi Hadid.

Di dalam area yang cukup luas ini, terdapat istana kecil dan taman-taman bunga. Istananya ada dua, Grand Trianon dan Petit Trianon (istana besar dan istana kecil). Lalu ada satu lagi bernama Queen’s Hamlet. Tapi yang ini bukan termasuk istana. Melainkan sebuah “model” rumah pedesaan. Desanya tentu saja desa Eropa, bukan desa pesisir Pantura.

20180616_223042_HDR
20180828_094719
20180616_223933_HDR

Estate of Trianon tidak lah semewah Château de Versailles – karena statusnya yang hanya sebagai rumah peristirahatan keluarga kerajaan. Tamannya juga gak terlalu banyak ornament dan terkesan liar (tapi rapi). Dan menurut saya, Château de Versailles lebih lebih kece. Queen’s Hamlet-nya lah yang bikin agak beda. Sayangnya pengunjung gak boleh masuk ke dalam rumah model-nya. Jadinya saya hanya bisa foto-foto di sekelilingnya saja.

20180616_224750
20180616_224726

Dua puluh menit sebelum komplek Château de Versailles tutup, panitia mulai sweeping. Saya dan pengunjung lain sudah dioprak-oprak secara halus biar pulang. Saya pun pasrah ngikut saja, meski sejujurnya saya belum puas muter-muter. Belum semua sudut Château de Versailles saja jelajahi. Tapi karena sudah sore, ya sudah lah pulang saja. Apalagi Nenek bilang tidak baik pulang malam-malam ***padahal bedhug magrib saat itu masih nanti jam 10 malam. Lagian kaki saya juga sudah sangat merindukan Salonpas dan belaian tukang urut.

Sebelum keluar dari istananya, jangan lupa mencoba parfum tester di toko suvenirnya. Coba lah segala benuk tester yang ada. Mumpung gratis G