Filipina menuntut penyelenggara Sea Games 2015 melaksanakan tes gender bagi pemain voli perempuan Indonesia, Aprilia Santini Manganang. Pelatih tim voli Filipina Roger Gorayeb menolak Manganang bertanding lantaran penampilan dan kekuatan fisiknya. Namun Singapore SEA Games Organising Committee menolak permintaan itu setelah mengkaji dokumen yang dikumpulkan tim voli Indonesia.

Atlet berusia 23 tahun itu dinyatakan bisa ikut bertanding mulai Rabu, 10 Juni 2015 di Sports Hub. Pengujian gender dalam dunia olahraga merupakan topik kontroversial. Tes ini bisa mempengaruhi kondisi psikologi atlet lantaran perempuan dinilai dari penampilan fisik.

FIFA, badan tertinggi sepak bola dunia, juga mensyaratkan tim yang berpartisipasi dalam FIFA Women’s World Cup untuk menandatangani surat jaminan yang menyatakan para pesertanya berjenis kelamin perempuan. Selain Manganang, permintaan tes gender juga pernah dialami oleh para atlet berikut:

1. Caster Semenya
Pelari Afrika Selatan meraih medali emas di cabang lari 800 meter putri pada World Championships 2009. Waktu yang dicatat 1: 55,45 di babak final. Lantaran catatan waktu yang mengagumkan itu, pertanyaan tentang jenis kelamin Semenya bermunculan.

The International Association of Athletics Federations atau Federasi Atletik Internasional menegaskan Semenya adalah seorang perempuan. Hasil tes gender tidak pernah secara resmi dirilis karena alasan privasi. Ia kembali meraih medali perak di World Championships 2011 dan Olimpiade 2012.

2. Dutee Chand
Atlet India berusia 19 tahun itu didiskualifikasi beberapa hari sebelum dimulainya Commonwealth Games di Glasgow, Skotlandia, pada Juli 2014. Penyebabnya, hasil tes yang diselenggarakan Federasi Atletik Internasional menunjukkan peningkatan hormon testosteron secara alami di dalam darahnya.

Sejak itu Chand tidak lagi diizinkan bertanding dan tengah mengurus banding ke Pengadilan Arbitrase untuk Olahraga di Lausanne, Swiss. Tim hukumnya menilai keputusan itu diskriminatif dan cacat hukum lantaran tidak ada penilaian yang sama untuk atlet pria. “Ini sangat kejam. Tuhan menciptakan saya seperti ini. Saya tidak ingin mengubah apa pun dan saya juga tidak mau menyerah pada keadaan ini,” ujar Chand kepada AFP pada 2014.

3. Santhi Soundarajan
Soundarajan memenangi medali perak lari jarak menengah di Asian Games Doha 2006. Namun ia gagal tes gender dan dipaksa mengembalikan medalinya serta dilarang bertanding.

Hasil tes, yang biasanya mencakup pemeriksaan kandungan, endokrin, psikologi, dan genetik, tidak dipublikasi. Namun beberapa laporan menyatakan Soundarajan mengalami sindrom insensitivitas androgen. Sindrom itu membuat karakter fisik seseorang wanita tapi kromosomnya laki-laki. Soundarajan mengalami depresi serius setelah dilarang bertanding. Surat kabar India melaporkan dia berupaya bunuh diri pada September 2007.

4. Stella Walsh
Walsh yang berasal dari Polandia mencetak banyak rekor termasuk merebut medali emas kategori 100 meter perempuan pada Olimpiade 1932 dalam 11,9 detik. Setelah pensiun dari karir olahraganya, ia menerima kewarganegaraan Amerika Serikat dan aktif dalam berbagai asosiasi olahraga Polandia di negeri Abang Sam.

Kontroversi muncul ketika Walsh tewas secara tragis pada 1980 dalam sebuah perampokan bersenjata. Hasil otopsi mengungkapkan dia menderita mosaicism. Kondisi itu berarti Walsh memiliki kromosom laki-laki dan perempuan dan memiliki alat kelamin laki-laki. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang keabsahan medali yang dikumpulkannya.

bandar qq