Onbet789 – Pesawat saya akhirnya memeluk landasan setelah tak lama mengudara dari KLIA. Saya dan penumpang lain pun keluar. Tentunya setelah dipersilahkan oleh kakak pramugari ber-etnis India punya AirAsia. Tapi sayangnya di bandara ini, kami keluar pesawat tanpa dibantu belalai. Jadinya ketika kaki saya menjejak lantai landasan, panas matahari langsung cetar menampar muka saya yang manis seperti gulali basi.

Yah, cuaca Siem Reap memang hebring sekali hari itu. Dan siapa sangka juga kalau masih jam setengah delapan pagi. Makanya dari pada pusing kepala berbi kena panas matahri, saya buru-buru lari ke gedung bandara. Tapi ya karena saya ini agak banci selfie, jadinya saya berhenti sebentar untuk foto bareng biru-nya langin Siem Reap yang bening sekali.

20171223_075541

Di dalam gedung, acara imigrasi dan custom di bandara Siem Reap seharusnya tidak lah lama. Lha wong turis yang sampai bareng saya gak sebanyak saat layover di Malaysia. Apalagi kita orang Indonesia sudah gak pakai visa-visa segala kalau ke Cambodia. Tapi kalau kali ini jadi lama, itu karena petugas di line saya kerjanya agak suka-suka. Cek paspor sambil fesbukan dan berdangdut ria itu luar biasa sekali attitude-nya. Kalau saya ini orangnya kurang arrahman-nirrahim-malikiyaumidin, mas-mas imigrasi ini pasti sudah saya kutuk jadi Justin Bieber.

20171223_080204
20171223_082039

Untung saja setelah ngantri lama di imigrasi, saya gak perlu ngantri lagi untuk nunggu driver. Soalnya abang tuktuk yang saya pesen sehai sehari sebelumnya, sudah berdiri anteng menunggu kedatangan saya di pintu arrival. Kalau saja saya jadi pesan tuktuknya lewat bandara yang entah bagaimana cerita malah $9 begitu mahalnya (dan belum ngantri-ngantrinya), saya pasti sudah murka kepada dunia. Tapi berkat servis abang tuktuk yang sigap dan baik hati, suasana hati saya pun kembali ceria.

20171223_081716
20171223_082244

Meski hari itu masih sangat pagi dan waktu check-in dipastikan masih jauh sekali, tapi abang tuktuk sudah saya titahkan untuk langsung tancap gas saja ke penginapan. Rencananya, saya mau leha-leha dulu sebelum menjelajah isi Siem Reap. Soalnya, selain porsi tidur saya yang semalam kurang lama, waku itu saya juga lagi dalam keadaan sakit bin kurang sehat. Jadi dari pada nanti kliyengan terus pingasan di tengah jalan, princess saya memutuskan untuk bobo cantik dulu barang sejam – meski nyatanya, bangun-bangun sudah agak sorean.

Dan dari pada makin sore makin manja, saya memaksakan diri turun dari kasur untuk menikmati udara sore Siem Reap yang masih panas. Tanpa teman, tanpa pacar, dan tanpa abang tuktuk. Tapi tak mangapa. Yang penting dibawa hepi aja.

WAT PREAH PROM RATH
Sepengamatan saya, kuil ini adalah kuil Buddha paling mewah yang ada di pusat kota Siem Reap. Mirip kuil-kuil di Laos gitu deh. Ada kuil utama-nya, ada stupa-stupa, dan patung-patung. Tapi kalau kalian sudah familiar dengan kuil-kuil di Indocina, it’s not surprising to see. Meski begitu, masih worth it lah untu dikunjungi dan sekalian foto-foto. Lagian gratis gini masuknya.

20171223_142430
20171223_142610
20171223_141951
20171223_143450_HDR
20171223_143005

ROYAL GARDEN
Secara harfiah, artinya memang taman kerajaan. Tapi mungkin kerajaan-nya Siem Reap berbeda kali ya dengan kerajaan versi kepala saya. Jadi pas ke sana, agak kecewa gitu rasanya kalau isinya cuma lapangan rumput dengan deretan pohon kamboja. Mana banyak pedagang asongan pula. Malah bis-bis turis Cina juga suka parkir di sini. Kayak kurang elegan gimana gitu suasananya. Tapi garden ini still good lah untuk dipakai bersantai sambil nyeruput kerang balado dan rujak Cambodia yang dijual di kaki lima pinggiran taman.

20171223_150825
20171223_151637
20171223_152658

Anyway, ada satu hal lagi yang perlu kalian tahu: meski tempat ini looks good dengan adanya sebuah bangunan megah di sisi utara gardennya, tapi bangunan ini sebenarnya bukan lah kediaman sultan. Bukan pula gedung pemerintah atau yang sejenisnya. Karena kalau kalian perhatikan baik-baik gedungnya, kalian akan menemukan tulisan “hotel” di sisi lain gedungnya. Jadi mohon jangan salah ya.

LUCKY MALL
Cuaca Siem Reap yang panas bak neraka bocor, memotivasi saya untuk nyari AC gratisan. Lucky Mall lah salah satu tempatnya. Selain untuk numpang ngadem, gak ada yang special sih dengan tempatnya. KCP Karawang masih jauh lebih kece. Gak ada toko branded sebangsa Louis Vuitton dan teman-temannya. Paling banter adanya Miniso. Tapi begini-begini, tempatnya cukup beken di kalangan expat Korea.

20171223_160036

OLD MARKET
Saya kurang tahu seberapa old pasar ini, karena saya gak terlalu interested dengan histori. Tapi kalo melihat style-nya, pasar ini masih tipikal pasar biasa sekelas pasar kecamatan. Jadi isinya gak cuma penjual sayur dan ikan, tapi juga toko pakaian, toko perabot, tukang jamu, dan bahkan salon blusukan. Suvenir-suvenir sebangsa gantungan kunci dan kaos-kaos juga bisa kalian beli di sini. Murah, tapi saya gak beli #masihtanggaltua

20171225_151735
20171223_162923
20171225_151521
20171225_123910

Karena dari pada beli suvenir yang nantinya tergeletak begitu saja di meja kerja (atau malah terbuang sia-sia kena sweeping jumat bersih), saya lebih prefer jajan. Dan di dalam Old Market ini kebetulan juga banyak tempat jajan. Malah lebih murah dibanding kalau kalian jajan di Pub Street. Siapa sangka sepiring nasi (plus sayur dan lauk ikan) yang dijual embok-embok di pinggiran kios ikan cuma dihargai 1 dollar saja.

PUB STREET
Mirip dengan Khao San Road di Bangkok. Pasar malam yang penuh dengan street food dan bar-bar dengan musik jedag-jedug ini sangat popular di kalangan turis Siem Riep. Apalagi dengan lampu neon warna-warni yang membuat Pub Street makin semarak seperti nDolly. Kalau kaki kalian pegel setelah jalan berjam-jam, kalian juga bisa booking tukan pijet atau terapi ikan di sekitar area ini.

20171225_191759_HDR
20171225_191936

Tapi sebenarnya I’m not fans of this place. Karena selain keramaian massa-nya yang membuat saya makin ngelu, jajanan kaki limanya juga tidak terlalu menarik buat saya. Gak menariknya karena tanggal tua sih. Secara, harganya juga agak mahalan dibandingkan yang di real kaki lima. Hahaha. Tapi kalau kalian gak terlalu pelit-amit-amit-kesamber-langit kayak saya, ice cream roll atau masakan Cambodia yang lain sebenarnya patut untuk dicoba. Atau mau nyobain makan kalajengking mungkin?

20171225_124731
20171225_124828

SIEM REAP RIVER
Kali Siem Reap itu sejatinya cukup panjang. Tapi sungai yang saya maksud ini adalah Siem Reap River yang depan Old Market. Kalau dilihat pagi atau siang hari, sungai ini mungkin gak ada menarik-meariknya. Mirip Kali Malang versi rindang gitu deh.

20171225_121431

Tapi kalau malam atau hari sudah gelap, lampu-lampu jembatan dan di sepanjang pinggiran sungai akan menyala – sehingga kelihatan bagusnya. Di dekat jembatannya juga ada grup pengamen handicap yang memainkan lagu dengan gamelan Cambodia. Kalian yang dermawan bisa nyumbang-nyumbang sedikit receh atau beli albumnya.

20171225_194458
20171225_191117

Makin malam, makin rame. Tapi mengingat saya yang masih vulnerable akibat wabah batuk-pilek, saya memutuskan untuk meninggalkan hura-hura Kota Siem Reap lebih awal. Apalagi besoknya saya harus bangun subuh-subuh-sekali untuk ngantri tiket Angkor Wat.

Tapi karena pengen yang anget-anget, saya mampir sebentar di kaki lima depan Wat Damnak untuk jajan “mie ayam”. Mie-nya enak, gurih, seger, dan yang penting murah. Tapi yang namanya pilek, kepala pusing, dan sudah mabok Benadryl – saya udah gak peduli lagi dengan apa yang dimakan. Dan pas sadar ada babi-nya, saya hanya bisa bilang: babi ternyata enak. Lalu lanjut tidur.

20171223_150713
20171223_153824