Peredaran NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) adalah salah satu masalah global yang masih terus diperangi dari tahun ke tahun. Namun, tak dapat disangkal bahwa memerangi narkoba bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Layaknya pergantian tren makanan atau mode, ada saja jenis narkoba baru yang silih berganti menjamur di berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah flakka. Narkoba ini mirip kokain dengan harga yang jauh murah, tapi efeknya berkali-kali lipat lebih berbahaya dari kokain.

Flakka adalah narkotika sintetis yang sudah mendunia

Flakka sering dianggap sebagai kombinasi dari heroin dan kokain, atau heroin dan sabu (metamfetamin). Faktanya, flakka adalah obat psikoaktif sintesis jenis Amphetamine Type Stimulants (ATS). Flakka mengandung senyawa katinona, atau alpha-pyrrolidinopentiophenone (alpha PVP).

Pada dasarnya, alpha PVP bukanlah sebuah nama baru. Alpha PVP adalah narkotika sintesis yang dibuat dari Tiongkok dan sudah ditemukan sejak tahun 1960. Narkoba ini mulanya dipasarkan sebagai alternatif legal untuk ekstasi. Alpha PVP memiliki efek stimulan seperti sabu (metamfetamin) dan kokain. Akan tetapi, efek stimulan yang dihasilkannya bisa 10 kali lebih kuat dibandingkan kokain.

Setelah diketahui memiliki potensi efek samping yang berbahaya, maka obat ini akhirnya dilarang untuk diedarkan. Flakka sudah dilarang produksi dan peredarannya di Amerika Serikat sejak tahun 2014. Pelarangan mengedarkan Flakka pun kemudian diikuti oleh 20 negara lainnya, seperti Inggris, Jerman, Spanyol, Bulgaria, Austria, Republik Ceko, dan Perancis.

Di Indonesia, flakka termasuk pendatang baru. Meski begitu, nama narkoba ini sudah tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 2 tahun 2017 dengan nama kimia alfa PVP sebagai salah satu jenis narkoba berbahaya yang peredarannya dilarang.

Flakka lebih murah daripada kokain

Sepeti yang sudah disebutkan di awal, flakka adalah versi murahnya kokain.

Flakka hanya dibanderol sekitar $ 3 hingga $ 5 atau setara dengan Rp 42 ribu sampai  Rp 73 ribu saja. Sementara kokain dipatok dengan harga pasaran yang jauh lebih mahal, hingga sekitar $80 atau Rp 1 juta-an.

Selain lebih murah, nyatanya efek flakka juga jauh lebih kuat daripada kokain. Tak heran jika banyak pecandu narkoba yang jadi beralih menggunakan narkoba jenis ini. Namun, waspada bahayanya.

Yang terjadi pada tubuh setelah pakai flakka

Flakka adalah stimulan yang memiliki banyak efek samping berbahaya.

Penggunaan pertama kali dalam dosis kecil (kurang dari 100 miligram) mungkin sebatas menimbulkan efek euforia, perubahan perilaku, dan perubahan suasana hati umum layaknya efek narkoba jenis stimulan lain seperti kokain dan sabu. Misalnya, jadi lebih bersemangat, merasa lebih segar dan amat sangat gembira, hiperaktif, banyak bicara, dan jauh lebih percaya diri dari sebelumnya. Beberapa orang yang menggunakan flakka juga mungkin merasakan pancainderanya lebih sensitif terhadap rangsangan.

Efek tersebut datang dari lonjakan hormon dopamin dan norepinefrin secara berlebihan setelah mengonsumsi zat stimulan. Peningkatan kadar dopamin dalam otak yang berlebihan dapat memunculkan sensasi euforia, alias perasaan bahagia yang berlebihan. Sementara kadar norepinefrin yang melonjak naik dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, yang keduanya bisa membuat Anda lebih awas.

Secara umum, berikut beberapa efek flakk dalam jangka pendek:

  • Perasaan gembira yang berlebih
  • Jatung berdebar-debar
  • Napas memburu atau terengah-engah
  • Tekanan darah meningkat
  • Gelisah
  • Tidak bisa diam
  • Mengigau
  • Sensitivitas luar biasa terhadap sentuhan, suara, dan penglihatan

Flakka jauh lebih nyandu dari kokain dan meth

Sama seperti narkoba jenis lainnya, flakka yang dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan kecanduan. Kenyataannya, kecenderungan kecanduan Flakka bahkan jauh lebih tinggi daripada jenis stimulan lain.

Sebab, smua efek dari flakka bisa dirasakan langsung segera setelah konsumsi pertama dengan dosis rendah, tapi durasinya tidak tahan lama. Setelah zat obatnya habis dalam tubuh, pemakai flakka akan segera merasakan kelelahan berat dan gejala depresi.

Akibatnya, kebanyakan orang jadi mengidam untuk kembali mengonsumsi obat ini dalam dosis yang lebih tinggi agar tetap bisa merasakan berbagai sensasi euforik yang nikmat sementara juga menghindari efek sakau setelahnya. Padahal, semakin sering dan banyak seseorang menyalahgunakan obat stimulan, semakin tinggi pula peluang Anda jadi ketergantungan dan kecanduam.

Jika dibiarkan terus-terusan, tentu bisa sangat berbahaya. Semakin sering dan lama Anda menggunakan narkoba ini dalam dosis tinggi, semakin banyak juga efek negatif yang mungkin menggerogoti tubuh. Kecenderungan ketergantungan yang lebih tinggi inilah yang membuat efek Flakka juga jauh lebih berbahaya daripada kokain.

Apa efek jangka panjang dari flakka?

Efek jangka panjang dari flakka sejauh ini belum dapat dipastikan karena narkotika ini termasuk “anak baru” yang belum banyak diteliti lebih lanjut. Selain risiko overdosis, sejumlah penelitian yang sudah ada menunjukkan bahwa obat itu berpotensi menyebabkan gagal ginjal.

Selain itu, dosis flakka yang lebih kuat juga berpotensi menyebabkan pemakainya mengalami hipertermia. Kondisi ini bukan kepanasan atau kegerahan biasa. Hipertermia adalah kondisi suhu inti tubuh yang meningkat tajam dan terjadi tiba-tiba dalam waktu singkat sehingga tubuh Anda tidak punya cukup waktu untuk berkeringat guna mendinginkan diri. Peningkatan suhu yang ekstrem ini dapat menyebabkan komplikasi fisik yang parah, seperti kerusakan otot dan ginjal akibat dehidrasi parah.

Ya, perlahan tapi pasti, jaringan otot mulai rusak. Jaringan yang rusak ini akan melepaskan protein dan produk seluler lainnya ke dalam aliran darah. Dalam dunia medis, kondisi ini disebut dengan rhabdomyolysis. Jika sudah begini, penderita membutuhkan perawatan medis segera.

Saat pemakai flakka telanjur mengalami rhabdomyolisis dan dehidrasi secara bersamaan, mereka lebih mungkin untuk mengalami gagal ginjal dan bahkan kematian.

Juga bikin penggunanya jadi seperti zombie

Penggunaan flakka yang berlebihan telah dikaitan dengan perasaan cemas yang esktrem, paranoid, dan halusinasi. Dalam kasus kecanduan yang parah, penggunanya bisa masuk pada fase delirium ekstrem. Fase ini menyebabkan penderitanya mengalami kebingungan parah dan tidak mampu berpikir jernih.

Ketika berada di fase delirium, pemakai flakka akan cenderung menunjukkan perilaku agresif dan merusak yang bisa mencelakai dirinya sendiri atau orang lain. Misalnya mengamuk, memukul, menjarah, dan menjerit-jerit histeris. Beberapa pemakainya juga bahkan dapat mengalami kejang.

Nah, fase delirium inilah yang membuat penderitanya juga seringkali terlihat seperti zombie alias mayat hidup. Sejumlah laporan kepolisian lokal di berbagai negara bagian di Amerika Serikat menemukan orang-orang pemakai flakka yang menggeliat-geliat di lantai dengan mata tergulung ke belakang di kepala mereka, seperti zombie.

Melansir laman Independent, efek flakka diduga kuat menjadi penyebab di balik serangan kanibalisme yang terjadi pada dua orang lansia pejalan kaki di Florida, Amerika Serikat. Seorang remaja 19 tahun pemakai flakka dilaporkan menyerang kedua pejalan kaki tersebut dengan sebilah pisau, kemudian menggigit dan memakan hampir sebagian besar area wajah salah satu korbannya sampai terlepas.

bandar qq