Berbagai jenis aplikasi kencan telah tersedia saat ini. Banyak di antaranya bahkan gratis dan mudah digunakan.

Tujuan dari perangkat lunak ini sebetulnya sederhana, yakni mempertemukan mereka yang tengah mencari pasangan.

Berbagai fitur tersedia dalam aplikasi kencan. Salah satu perangkat lunak pencari jodoh memungkinkan kita untuk memilih orang yang cocok, dengan jarak tertentu yang dapat disesuaikan.

Jika Anda mengatur pencarian dua kilometer, maka tinggi kemungkinan akan bertemu dengan tetangga atau orang-orang satu kompleks rumah. Sementara itu, jika mengatur jarak yang lebih luas misalnya 25 kilometer, Anda dapat menemui orang yang lebih beragam.

Banyak pengguna menemukan orang-orang tak terduga di aplikasi kencan. Misalnya bertemu dengan orang aneh, bahkan bisa jadi justru cocok (match) dengan orang yang bermotif jahat. Meski demikian, sejumlah orang telah membuktikan sukses bertemu dengan pasangan hidup ideal berkat aplikasi itu.

Siapa sangka, ternyata perangkat lunak pencari jodoh itu juga bisa membahayakan mental. Berikut ini informasinya, dikutip darilaman Psychology Today pada Rabu (8/5/2019):

Penolakan Berkali-kali

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengguna aplikasi kencan mengalami penolakan yang sangat sering, sebagaimana dikutip dari Psychology Today.

Satu studi menemukan tingkat kecocokan yang rendah, terutama pada kalangan pria. Selain itu menurut data yang sama, sekitar 50 persen dari mereka yang telah cocok (match) tidak membalas pesan. Karenanya, pengguna aplikasi kencan berpotensi merasa “tidak disukai” dan diabaikan.

Ekspektasi

Lebih buruk dari sebelumnya, banyak pengguna melaporkan bahwa kencan pertama mereka di luar ekspektasi. Para pasangan sering merasa canggung, kasar, dan tidak membuat nyaman.

Selain itu, orang-orang yang mengalami kejadian tidak diinginkan bersama pasangan yang didapat melalui online mengatakan, mereka sangat berbeda saat di aplikasi dan pada realita.

Berakhir Menggantung

Pengalaman umum yang dilaporkan oleh banyak pengguna aplikasi kencan adalah “ghosting” yakni pasangan mengakhiri hubungan secara tiba-tiba. Bukan berarti hubungan putus, namun istilah itu merujuk pada keadaan di mana partner tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa memberi kabar.

Dengan kata lain, banyak hubungan yang terlihat serius di awal justru berakhir menggantung.

Masih menurut Psychology Today, pengalaman itu dapat mengganggu kesehatan mental.

Menganggap Diri Tidak Berharga

Pengalaman buruk saat menggunakan aplikasi kencan dapat menyebabkan pengguna terus menerus mempertanyakan penampilan fisik mereka.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari University of North Texas menunjukkan, pengguna aplikasi kencan menganggap diri mereka kurang berharga. hal itu salah satunya disebabkan oleh penolakan yang sering diterima.

Selain itu, aplikasi kencan memungkinkan pengguna memiliki koneksi yang luas namun dangkal. Alhasil, mereka sulit mendapatkan hubungan yang dalam dan bermakna dengan seseorang.

Selain itu, pengguna cenderung akan sulit untuk setia. Mereka akan bertanya-tanya “adakah orang yang lebih baik dari pada ini pada gesekan (swipe) berikutnya?”

Alhasil, hubungan yang telah terjalin dengan sesama pengguna aplikasi kencan cenderung tidak akan bertahan lama. Bagi sebagian orang yang tidak mudah jatuh hati, tentu menganggap hal itu menyakitkan.

Tipu Daya

Di masa lalu, pria dan wanita cenderung bertemu di tempat kerja, atau tempat-tempat nyata lainnya seperti gereja atau mungkin saja perpustakaan. Hubungan mereka berakar pada ekologi sosial yang sudah ada sebelumnya di mana orang lain umumnya dapat dipercaya.

Hal itu tentu mencegah adanya tipu daya atau kejahatan tertentu akibat menjalin hubungan dengan orang yang belum dikenal.

Dalam kencan yang dimulai dari aplikasi, tidak ada ekologi sosial semacam itu. Sebaliknya, beberapa pengguna dapat bersembunyi di bawah anonimitas atau tipu daya.

Tipu daya yang dimaksud dapat bermacam-macam. Misalnya penipuan tentang karakteristik pribadi seperti usia atau profesi; hingga ketidakjujuran tentang status hubungan. Dalam beberapa kasus, motif buruk juga sering sukses disembunyikan.

Pengalaman penipuan seperti itu dapat merusak kesehatan mental, yang menyebabkan emosi menyakitkan, serta kurangnya kepercayaan diri.