Onbet789 – Inovasi teknologi dan media sosial mengubah cara manusia berinteraksi. Manusia patut bersyukur dengan temuan ini, karena mampu menghubungkan komunikasi antar manusia yang jauh secara jarak. Peran media sosial semakin penting ketika ia tepat guna dimanfaatkan sebagai sumber untuk meraih informasi terkini dan mengekspresikan diri.

Sayang, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Meski punya banyak benefit, Facebook, Twitter, Instagram, dan kawan-kawannya, ternyata juga punya sisi gelap bagi mereka yang menggunakannya dengan tidak bijak.

Penggunaan media sosial secara intens dan berlebihan dapat memicu masalah kesehatan mental, menurut riset yang dilakukan tim peneliti dari McMaster University, Kanada, pada 2016 lalu. Sementara studi dari University of Southern California dan University of California, AS, pada 2018 lalu menyimpulkan bahwa media sosial dapat memicu anak berperilaku impulsif dan hiperaktif.

Ilustrasi menghapus akun sosial media. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Seorang praktisi kesehatan mental, Adjie Santosoputro, punya jawabannya. Jawaban ini adalah diraih dari pengalaman pribadinya, yang dulu sempat jadi pecandu berat media sosial, bahkan ia mengaku media sosial membuat hidupnya jadi lebih buruk.

Adjie berkenan membagikan cara yang membuat dirinya bisa terbebas dari kecanduan media sosial kepada kumparan. Tips ini ia pecah menjadi empat poin.

Luangkan Waktu untuk Interaksi Diri Sendiri

Upaya ini cukup sulit dilakukannya. Poinnya sederhana: pengguna diminta meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan diri sendiri.

Media sosial membuka peluang pengguna untuk setiap hari, di mana pun dan kapan pun, dapat berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut memang bagus, namun itu justru membuat kita menjadi lupa untuk berinteraksi dengan diri sendiri.

Adjie Santosoputro, praktisi kesehatan mental. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Adjie berkata, banyak orang pintar yang berumur panjang karena setiap hari mereka meluangkan waktunya untuk merenung, untuk berinteraksi dengan diri sendiri. Oleh sebab itu, ia menyarankan kita untuk melakukan hal serupa, minimal tidak buka media sosial selama 20 atau 30 menit per hari.

“Satu hari luangkan waktu, katakan, setengah jam atau 20 menit lah untuk enggak buka media sosial. Hanya duduk diam. Apa sih yang sedang saya rasakan sekarang? Apa sih yang sedang saya pikirkan sekarang? Ngobrol dengan diri sendiri?” ucap Adjie.

Kurangi Interaksi dengan Orang Lain

Dengan berinteraksi terhadap diri sendiri, maka secara tidak sadar kita mengurangi interaksi dengan orang lain. Dan ini yang memang dilakukan Adjie, ketika berusaha menghilangkan rasa candu terhadap media sosial.

Dulu, cara yang dilakukan Adjie adalah membatasi waktu bermain media sosial. Ia bahkan sampai tidak membuka smartphone-nya sama sekali demi bisa mengurangi interaksi dengan rekan dan bahkan keluarganya.

Ilustrasi sosial media. Foto: Shutter Stock

Menurutnya, smartphone justru memberikan rasa takut dan penasaran dengan kabar yang akan datang. Hal itu membuat mental menjadi stres dan capek, sehingga rasa marah tak terhindarkan.

“Belajar untuk surrender, sehingga saya membatasi waktu ber-social media, waktu berinteraksi digital saya,” tambahnya.

Pilih Konten yang Penting dan Mendalam

Internet menawarkan banyak tipe konten, mulai dari berita politik hingga hiburan. Hiburan dan berita ini, oleh Adjie, dibagi menjadi dua jenis: datar (shallow) dan dalam (deep).

Konten yang datar berarti ringan untuk dikonsumsi, atau milenial kini menyebutnya ‘receh’. Sifatnya tidak begitu penting dan biasanya lebih banyak candaan. Sementara konten yang mendalam berarti penting dan ada nilai manfaatnya.

Karena perhatian manusia terbatas, penulis buku ‘Sejenak Hening’ ini menyarankan untuk memilih hiburan dan kabar berita yang sifatnya deep. Prioritaskan itu di media sosial dan juga internet.

“Kalau dibombardir dengan hiburan dan kabar berita yang sifatnya tidak mendalam, ya, kita jadinya akan kehilangan prioritas.” kata Adjie.

Fokus Hanya pada Hal Penting

Terakhir, terus menjaga perhatian pada hal-hal penting ketika bermain media sosial. Ketika pengguna memutuskan fokus dengan konten hiburan dan informasi yang mendalam di dunia maya, lakukan dengan benar dan serius.

Adjie tak melarang pengguna membuka media sosial untuk menikmati konten ringan dan receh. Ia pun mengaku juga menyukai hal tersebut. Namun, hal itu tidak disarankan untuk dilakukan secara terus-menerus, agar terhindar dari candu media sosial dan membuat hidup menjadi kurang berarti.

“Ada kalanya saya juga suka dengan hal-hal yang receh, tapi kalau terus-terusan menikmati hal-hal yang receh, ya, hidup ini akan jadi enggak mendalam,” ungkapnya.

Adjie Santosoputro, praktisi kesehatan mental. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Semua upaya ini sejatinya mudah dilakukan, asalkan kita memiliki niat untuk mengendalikan diri. Tak perlu memusuhi media sosial atau bahkan sampai meninggalkan internet selamanya.

Tips dari Adjie ini mungkin terasa berat bagi mereka yang sudah menjadi pecandu media sosial. Namun, jika ada niat dan disiplin untuk mengendalikan diri, semua bakal menjadi mudah dilakukan.

Kita mungkin tidak perlu berhenti sepenuhnya. Cukup membatasi waktu kita di media sosial secara signifikan. Berhubungan kembali dengan teman dan keluarga dalam kehidupan nyata, jelas merupakan cara yang harus dilakukan.

onbet789
berita-umum
judionline
tranding

Media social